Jumat, 21 November 2008

Teori Evolusi

Umunya manusia beranggapan bahwa menerima teori evolusi adalah menerima bahwa manusia adalah keturunan makhluk sejenis kera. Tak dapat dipungkiri bahwa manusia dan kera memiliki sangat banyak persamaan, lebih banyak lagi apabila dibandingkan antara manusia dengan kang- guru, umpamanya ini. Di luar dari jenis darah kera mengandung rhesus positif sama dengan sebagian besar manusia Asia dan Afrika dan berbeda dengan bangsa Eropa yang berhesus negatif, sehingga Hitler menyombongkan bahwa bangsa Eropa adalah ras unggul (ras Aria yang tidak sama rhesusnya dengan kera). Benarkah manusia berasal dari kera menurut teori evolusi versi Darwin? Bagaimana pendapat Agama Buddha terhadap teori evolusi?

Arti dari evolusi adalah produk perkembangan atau perubahan yang tidak secara tiba-tiba. Arti evolusi dalam artikel ini adalah teori yang menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari kehidupan organik sederhana hingga menjadi berbagai hewan dan manusia sekarang ini. Buddhis memandang teori evolusi berdasarkan Buddhavamsa juga Aganna Sutta dan Cakkavati Sihanada Sutta dari Digha Nikaya.

Menurut Buddhavamsa manusia masa lampau tinggi besar, sedangkan menurut sebagian ilmuwan manusia adalah keturunan makhluk sejenis kera, berarti kita masih bersaudara jauh dengan kera, sebagian orang menolak pendapat ini, sebagian menerima, ada juga kelompok tertentu yang sebelumnya menolak mati-matian tetapi karena mereka sendiri bingung kemudian menyatakan menerima tetapi meralat kembali pernyataannya seperti yang dilansir dalam surat-surat kabar beberapa tahun yang lalu. Bagaimanakah menurut pandangan Buddhis apa saja yang terdapat dalam Tipitaka yang berhubungan dengan teori Evolusi?

Menurut agama Buddha, ukuran rata-rata manusia tidak selalu sama seperti yang dianggap oleh para ilmuwan selama ini, ukuran rata-rata dan usia rata-rata manusia ber-ubah sejalan dengan waktu dan juga sejalan dengan tinggi atau rendahnya tingkat moral rata-rata manusia.

Sejalan dengan membaiknya penghar gaan terhadap hak asasi manusia yang mengakibatkan berkurangnya peperangan dan berdampak terhadap membaiknya gizi manusia. Sumber daya yang tadinya di-gunakan untuk peperangan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan kesejahteraan berupa sandang-pangan yang cukup. Dengan demikian, sejalan dengan membaiknya tingkat gizi manusia rata-rata maka tinggi tubuh manusia juga bertambah. Dalam Buddhavamsa pernah suatu ketika tinggi manusia mencapai lebih dari sepuluh meter suatu hal yang nampaknya mustahil tetapi mungkin ada benarnya juga.

Kita ketahui bahwa dinosaurus, T-rex dan lain-lain hidup di jaman purba, bila dibandingkan manusia yang hanya seukuran seperti kita sekarang, ditambah lagi dengan pengetahuan yang dimiliki pada waktu itu hanya mengenal senjata tajam yang terbuat dari batu, dapatkah manusia bertahan terhadap kebuasan mereka? Panah atau tombak yang di lemparkan manusia mungkin hanya menempel saja di kulit mereka. Lain halnya bila manusia juga berukuran besar maka manusia memiliki kekuatan bertahan hidup yang sama besar dengan mereka dan bahkan lebih karena kemampuan otaknya.

Timbul pertanyaan baru, jika ukuran manusia dan hewan-hewan demikian besar bagaimana mungkin bumi dapat mendukung bila jumlahnya juga membesar?

Bagian terbesar bumi adalah lautan, bila lautan membesar maka daratan mengecil dan demikian juga sebaliknya, bila lautan mengecil maka daratan membesar. Sebagian dari air yang berada di bumi tersimpan dalam kebekuan di kutub utara dan selatan, kenaikan atau penurunan suhu walaupun hanya beberapa derajat yang disebabkan oleh penggundulan, hutan, polusi dan sebagainya yang diakibatkan oleh keserakahan dan kebencian manusia akan mengakibatkan permukaan laut naik atau turun. Jadi ada kaitan antara moral dan tingkah laku manusia dengan alam-alam bereaksi terhadap tingkah laku manusia.

Melihat kecenderungan manusia yang menyebabkan suhu bumi semakin tinggi (dengan efek rumah kacanya) maka kemungkinan besar daratan di masa yang akan datang akan semakin mengecil pula, telah kita ketahui dalam Cakkavati Sihanada Sutta bahwa umur manusia pada titik terendah moralnya hanya berusia sepuluh tahun, mungkinkah ukuran tubuh mereka juga akan semakin mengecil? mungkin tidak lebih tinggi dari setengah meter? Ini hanya suatu perkiraan tetapi bukan tidak mungkin hal ini akan terjadi.

Baiklah bagaimana dengan pithecantropus erectus atau pithecantropus mojokertensis yang merupakan suatu fossil yang tak terbantahkan? dan nampaknya bertolak belakang dengan teori evolusi Buddhis?

Memang benar bahwa pithecantropus merupakan salah satu fosil primata tertua yang ditemukan sejauh ini, pithecantropusyang dianggap merupakan nenek moyang cikal-bakal manusia ternyata tubuhnya sangat pendek. Dalam perjalanan ke Jawa tengah, penulis menyempatkan diri mengunjungi museum Sangiran yang terletak di desa Sangiran. Penulis melihat tanduk banteng yang panjangnya satu meter, tengkoraknya pun secara proporsional lebih besar daripada tengkorak banteng jaman sekarang (bandingkan dengan tanduk banteng jaman sekarang yang rata-rata sekitar 30-40 cm).

Di situ penulis juga melihat gading gajah purba yang panjangnya empat meter (bandingkan dengan gading gajah jaman sekarang yang ukurannya rata-rata antara satu meter hingga satu setengah meter). Jelas pada waktu itu ukuran hewan lebih besar daripada sekarang.

Tinggi manusia rata-rata adalah jaman sekarang adalah satu setengah hingga dua meter, tetapi ada peninggalan tengkorak manusia yang tingginya kurang lebih tiga meter. Yang agak aneh para ahli prasejarah mengatakan bahwa tinggi rata-rata manusia awalnya kecil kemudian membesar (seperti manusia raksasa dari Heidelberg) lalu mengecil lagi seperti kita sekarang.

Sebenarnya berdasarkan bukti-bukti yang ada nampaknya lebih masuk akal bila mengatakan bahwa Pithecantropus Erectus dan pithecantropus mojokertensis adalah sejenis kera yang berjalan tegak, bukan manusia purba. dan manusia Heidelberg mungkin memang adalah fosil manusia. Bila asumsi ini yang dipakai maka akan sejalan dengan Buddha Vamsa, dan manusia tak perlu merendahkan dirinya dengan mengatakan berasal dari keturunan kera.

Bila memang benar Pithecantropus erectus dan pithecantropus yang lain-lain, adalah kera, lantas di manakah fosil manusianya? Kita tahu pada jaman sekarang ini tidak semua manusia di kuburkan sebagian ada yang dikremasi, maka sisa fosil dari manusia dari golongan ini tentu tak akan bisa di dapat.

Agar tengkorak bisa berubah menjadi fosil, keadaan yang diperlukan harus tepat, fosil terbentuk melalui pemindahan zat kapur yang terdapat pada tulang tergantikan dengan mineral silikat. Bila tengkorak berada di tempat yang kaya silikat atau mineral lain maka ada kemungkinan akan terbentuk fosil, itupun bila tengkorak tersebut tidak hancur tergerus oleh batu-batuan yang lain. Tetapi bila daerah itu miskin silikat atau mineral lain maka yang terjadi adalah pengurangan substansi pengisi tengkorak hingga larut dan akhirnya lenyap sama sekali.

Bila demikian mengapa tidak ditemukan fosil yang lebih tua yang mungkin seluruhnya telah berubah menjadi batu? Jawaban yang paling unik dan universal menurut Buddha Dhamma adalah Anicca. Batu-batuan yang sekeras intan dan safirpun takluk terhadap hukum ketidak kekalan, padahal kekerasan, ketahanan terhadap pelarutan secara kimiawi, dan ketahanannya terhadap benturan sangat luar biasa, tetapi pada akhirnya juga akan hancur dan hilang terurai secara fisik dan secara kimiawi. Apalagi fosil yang kekerasan, ketahanan terhadap benturan dan ketahanan terhadap pelarutan secara kimiawi lebih rendah dari intan dan safir.

Jangan heran bila kita tidak akan menemukan fossil manusia yang berusia milyaran tahun walaupun menurut Tipitaka manusia telah ada bahkan jauh sebelum itu.

Kamis, 20 November 2008

Global Warming - Apa dan mengapa

Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?
Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?
Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.
Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.
Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.
Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.
Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.
Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya “An Inconvenient Truth” yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.
Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global (Gb.1).
Hasil perhitungan perkiraan agen pendorong terjadinya pemanasan global dan mekanismenya (kolom satu), berdasarkan pengaruh radiasi (Radiative Forcing), dalam satuan Watt/m^2, untuk sumber antropogenik dan sumber yang lain, tanda merah dan nilai positif dari kolom dua dan tiga berarti sumbangan pada pemanasan, sedangkan biru adalah efek kebalikannya. Kolom empat menyatakan dampak pada skala geografi, sedangkan kolom kelima menyatakan tingkat pemahaman ilmiah (Level of Scientific Understanding), Sumber: Laporan IPCC, 2007.
Dari gambar terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.
Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 - 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb - 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.
Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.
Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua tulisan ini.