| Teori Evolusi Umunya manusia beranggapan bahwa menerima teori evolusi adalah menerima bahwa manusia adalah keturunan makhluk sejenis kera. Tak dapat dipungkiri bahwa manusia dan kera memiliki sangat banyak persamaan, lebih banyak lagi apabila dibandingkan antara manusia dengan kang- guru, umpamanya ini. Di luar dari jenis darah kera mengandung rhesus positif sama dengan sebagian besar manusia Asia dan Afrika dan berbeda dengan bangsa Eropa yang berhesus negatif, sehingga Hitler menyombongkan bahwa bangsa Eropa adalah ras unggul (ras Aria yang tidak sama rhesusnya dengan kera). Benarkah manusia berasal dari kera menurut teori evolusi versi Darwin? Bagaimana pendapat Agama Buddha terhadap teori evolusi? Arti dari evolusi adalah produk perkembangan atau perubahan yang tidak secara tiba-tiba. Arti evolusi dalam artikel ini adalah teori yang menyatakan bahwa makhluk hidup berkembang dari kehidupan organik sederhana hingga menjadi berbagai hewan dan manusia sekarang ini. Buddhis memandang teori evolusi berdasarkan Buddhavamsa juga Aganna Sutta dan Cakkavati Sihanada Sutta dari Digha Nikaya. Menurut Buddhavamsa manusia masa lampau tinggi besar, sedangkan menurut sebagian ilmuwan manusia adalah keturunan makhluk sejenis kera, berarti kita masih bersaudara jauh dengan kera, sebagian orang menolak pendapat ini, sebagian menerima, ada juga kelompok tertentu yang sebelumnya menolak mati-matian tetapi karena mereka sendiri bingung kemudian menyatakan menerima tetapi meralat kembali pernyataannya seperti yang dilansir dalam surat-surat kabar beberapa tahun yang lalu. Bagaimanakah menurut pandangan Buddhis apa saja yang terdapat dalam Tipitaka yang berhubungan dengan teori Evolusi? Menurut agama Buddha, ukuran rata-rata manusia tidak selalu sama seperti yang dianggap oleh para ilmuwan selama ini, ukuran rata-rata dan usia rata-rata manusia ber-ubah sejalan dengan waktu dan juga sejalan dengan tinggi atau rendahnya tingkat moral rata-rata manusia. Sejalan dengan membaiknya penghar gaan terhadap hak asasi manusia yang mengakibatkan berkurangnya peperangan dan berdampak terhadap membaiknya gizi manusia. Sumber daya yang tadinya di-gunakan untuk peperangan dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan ekonomi dan kesejahteraan berupa sandang-pangan yang cukup. Dengan demikian, sejalan dengan membaiknya tingkat gizi manusia rata-rata maka tinggi tubuh manusia juga bertambah. Dalam Buddhavamsa pernah suatu ketika tinggi manusia mencapai lebih dari sepuluh meter suatu hal yang nampaknya mustahil tetapi mungkin ada benarnya juga. Kita ketahui bahwa dinosaurus, T-rex dan lain-lain hidup di jaman purba, bila dibandingkan manusia yang hanya seukuran seperti kita sekarang, ditambah lagi dengan pengetahuan yang dimiliki pada waktu itu hanya mengenal senjata tajam yang terbuat dari batu, dapatkah manusia bertahan terhadap kebuasan mereka? Panah atau tombak yang di lemparkan manusia mungkin hanya menempel saja di kulit mereka. Lain halnya bila manusia juga berukuran besar maka manusia memiliki kekuatan bertahan hidup yang sama besar dengan mereka dan bahkan lebih karena kemampuan otaknya. Timbul pertanyaan baru, jika ukuran manusia dan hewan-hewan demikian besar bagaimana mungkin bumi dapat mendukung bila jumlahnya juga membesar? Bagian terbesar bumi adalah lautan, bila lautan membesar maka daratan mengecil dan demikian juga sebaliknya, bila lautan mengecil maka daratan membesar. Sebagian dari air yang berada di bumi tersimpan dalam kebekuan di kutub utara dan selatan, kenaikan atau penurunan suhu walaupun hanya beberapa derajat yang disebabkan oleh penggundulan, hutan, polusi dan sebagainya yang diakibatkan oleh keserakahan dan kebencian manusia akan mengakibatkan permukaan laut naik atau turun. Jadi ada kaitan antara moral dan tingkah laku manusia dengan alam-alam bereaksi terhadap tingkah laku manusia. Melihat kecenderungan manusia yang menyebabkan suhu bumi semakin tinggi (dengan efek rumah kacanya) maka kemungkinan besar daratan di masa yang akan datang akan semakin mengecil pula, telah kita ketahui dalam Cakkavati Sihanada Sutta bahwa umur manusia pada titik terendah moralnya hanya berusia sepuluh tahun, mungkinkah ukuran tubuh mereka juga akan semakin mengecil? mungkin tidak lebih tinggi dari setengah meter? Ini hanya suatu perkiraan tetapi bukan tidak mungkin hal ini akan terjadi. Baiklah bagaimana dengan pithecantropus erectus atau pithecantropus mojokertensis yang merupakan suatu fossil yang tak terbantahkan? dan nampaknya bertolak belakang dengan teori evolusi Buddhis? Memang benar bahwa pithecantropus merupakan salah satu fosil primata tertua yang ditemukan sejauh ini, pithecantropusyang dianggap merupakan nenek moyang cikal-bakal manusia ternyata tubuhnya sangat pendek. Dalam perjalanan ke Jawa tengah, penulis menyempatkan diri mengunjungi museum Sangiran yang terletak di desa Sangiran. Penulis melihat tanduk banteng yang panjangnya satu meter, tengkoraknya pun secara proporsional lebih besar daripada tengkorak banteng jaman sekarang (bandingkan dengan tanduk banteng jaman sekarang yang rata-rata sekitar 30-40 cm). Di situ penulis juga melihat gading gajah purba yang panjangnya empat meter (bandingkan dengan gading gajah jaman sekarang yang ukurannya rata-rata antara satu meter hingga satu setengah meter). Jelas pada waktu itu ukuran hewan lebih besar daripada sekarang. Tinggi manusia rata-rata adalah jaman sekarang adalah satu setengah hingga dua meter, tetapi ada peninggalan tengkorak manusia yang tingginya kurang lebih tiga meter. Yang agak aneh para ahli prasejarah mengatakan bahwa tinggi rata-rata manusia awalnya kecil kemudian membesar (seperti manusia raksasa dari Heidelberg) lalu mengecil lagi seperti kita sekarang. Sebenarnya berdasarkan bukti-bukti yang ada nampaknya lebih masuk akal bila mengatakan bahwa Pithecantropus Erectus dan pithecantropus mojokertensis adalah sejenis kera yang berjalan tegak, bukan manusia purba. dan manusia Heidelberg mungkin memang adalah fosil manusia. Bila asumsi ini yang dipakai maka akan sejalan dengan Buddha Vamsa, dan manusia tak perlu merendahkan dirinya dengan mengatakan berasal dari keturunan kera. Bila memang benar Pithecantropus erectus dan pithecantropus yang lain-lain, adalah kera, lantas di manakah fosil manusianya? Kita tahu pada jaman sekarang ini tidak semua manusia di kuburkan sebagian ada yang dikremasi, maka sisa fosil dari manusia dari golongan ini tentu tak akan bisa di dapat. Agar tengkorak bisa berubah menjadi fosil, keadaan yang diperlukan harus tepat, fosil terbentuk melalui pemindahan zat kapur yang terdapat pada tulang tergantikan dengan mineral silikat. Bila tengkorak berada di tempat yang kaya silikat atau mineral lain maka ada kemungkinan akan terbentuk fosil, itupun bila tengkorak tersebut tidak hancur tergerus oleh batu-batuan yang lain. Tetapi bila daerah itu miskin silikat atau mineral lain maka yang terjadi adalah pengurangan substansi pengisi tengkorak hingga larut dan akhirnya lenyap sama sekali. Bila demikian mengapa tidak ditemukan fosil yang lebih tua yang mungkin seluruhnya telah berubah menjadi batu? Jawaban yang paling unik dan universal menurut Buddha Dhamma adalah Anicca. Batu-batuan yang sekeras intan dan safirpun takluk terhadap hukum ketidak kekalan, padahal kekerasan, ketahanan terhadap pelarutan secara kimiawi, dan ketahanannya terhadap benturan sangat luar biasa, tetapi pada akhirnya juga akan hancur dan hilang terurai secara fisik dan secara kimiawi. Apalagi fosil yang kekerasan, ketahanan terhadap benturan dan ketahanan terhadap pelarutan secara kimiawi lebih rendah dari intan dan safir. Jangan heran bila kita tidak akan menemukan fossil manusia yang berusia milyaran tahun walaupun menurut Tipitaka manusia telah ada bahkan jauh sebelum itu. |
Jumat, 21 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar